About The Film

Sebuah film drama layar lebar tentang perjalanan grup angklung sekolah yang melakukan misi kebudayaan ke Eropa. Misi tersebut berubah menjadi mission impossible ketika masalah mulai muncul bertubi-tubi. Di ambang keputusasaan, hanya satu yang tak boleh padam, harapan.

•  Durasi 120 menit
•  Format: digital
•  Subtitel: Bahasa Inggris
•  Diproduksi oleh: Sembilan Matahari Film
•  Sutradara: Sony Budi Sasono
•  Penulis naskah: Maulana M. Syuhada, Sony Budi Sasono, Mochamad Achir
•  Produser: Adi Panuntun, Sony Budi Sasono, Maulana M. Syuhada, Mochamad Achir, Dini A. Murdeani
•  Perkiraan tanggal rilis: awal 2016

 

FILM ADAPTASI
Diadaptasi dari kisah nyata berdasarkan memoar karya Maulana M. Syuhada (Bentang Pustaka, 2007). Buku ini mendapat sambutan hangat dari para pembaca dan telah menginspirasi banyak orang.

 

“Buku Mas Maulana sudah membuat saya melanjutkan kuliah yg terbelengkalai dan membuat saya optimis menjalani kehidupan.” 
– Rizky Firmansyah
, mahasiswa S2

“Saya termasuk korban 40 Days in Europe! Waktu mahasiswa saya masih sangat polos, belum pernah naik pesawat apalagi ke luar negeri. Gara-gara baca buku 40 Days, lulus dari UI, saya bisa mengunjungi 14 negara.”
– Fikriyah Winata, Alumni Geografi UI

“Sangat menginspirasi! Novel ini wajib dibaca oleh siapa pun terutama generasi muda!” – Ninit Yunita, novelis

“Sebuah pengalaman yang unik disuguhkan melalui narasi memoar yang menarik, penuh kejutan, dan klimaks yang dramatis! Sangat menghibur”
– Bettina David, penulis

SINOPSIS
LIGAR (17 tahun) mengalami dilema ketika ditunjuk menjadi konduktor tim angklung untuk misi budaya ke Eropa selama 40 hari karena ditentang oleh ayahnya. Namun ia tetap berangkat. Sesampainya di Eropa, MAUL (ketua rombongan) mengungkap rahasia bahwa sebenarnya grup tidak memiliki uang. Masalah demi masalah muncul bertubi-tubi. Grup terancam gagal dan terlunta-lunta di Eropa. Perseteruan Ligar dengan ARYA (pemimpin bayangan) membuat grup di ambang perpecahan. Ligar harus menanggalkan ego dirinya atau grup akan hancur berantakan.

TOKOH UTAMA
LIGAR sejak kecil bercita-cita menjadi seorang konduktor. Berkat kepiawaian dalam bermusik dan kepemimpinannya, ia menjadi ketua grup angklung di sekolahnya, meski tak pernah mendapat restu sang ayah. Dalam dilema, Ligar menerima tawaran menjadi konduktor grup melakukan misi budaya ke Eropa, walau itu berarti ia menentang ayahnya sendiri.

MENGAPA FILM IN PENTING

  • Angklung telah diakui oleh UNESCO sebagai world’s intangible cultural heritage (2010)
  • Angklung memiliki bahasa yang universal yang mampu meleburkan sekat-sekat suku, agama, profesi bahkan haluan politik
  • Mempromosikan angklung dan Indonesia
  • Menginspirasi generasi muda tentang nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, ketangguhan, kepemimpinan, serta persatuan dan kesatuan
  • Remaja membutuhkan role model yang bisa memberikan energi yang positif dan optimism
  • Media diplomasi budaya Indonesia dan mempromosikan pesan persahabatan antar bangsa

DAYA TARIK FILM

  • Alunan musik angklung yang indah memainkan lagu-lagu daerah, nasional, internasional, bahkan klasik dan opera memberikan pengalaman yang istimewa bagi penonton bioskop sekakan-akan menikmati konser live di Eropa.
  • Kemeriahan festival-festival dan interaksi budaya setempat, hubungan persahabatan antar dua bangsa.
  • Menampilkan sisi lain dari Eropa yang jarang terekspos, seperti kehidupan tradisional “country side” orang-orang Perancis yang menjadi host parentsgrup, keindahan bangunan-bangunan granit era Viktoria yang sudah berusia ratusan tahun di Aberdeen, dan keindahan pegunungan Tatra di Zakopane dengan kultur tradisional pegunungannya.

FESTIVAL
Film 40 Days memiliki potensi yang besar untuk bisa meraih sukses di festival-festival internasional karena selain mengangkat budaya lokal lewat angklung (baik sebagai alat musik maupun filosofi hidup) juga memiliki cerita yang kuat dan menginspirasi. Angklung dan Eropa, merupakan sebuah perpaduan yang kontras, unik dan orisinil.